Ketua dan Wakil Ketua Dekranasda Deiyai Tampil Memukau dengan Gaun Bebi dan Yato di Kriya Nusa 2026
Ketua dan Wakil Ketua Dekranasda Deiyai Tampil Anggun, Warisan Mama-Mama Deiyai Jadi Sorotan di Tengah Ratusan Stan Nusantara
JAKARTA, TIGIPEKU.com — Bukan sekadar busana. Bukan pula hanya sebuah noken. Di balik Gaun Bebi dan Yato yang dikenakan Ketua Dekranasda Kabupaten Deiyai, Fransina Rumbiak Mote, bersama Wakil Ketua Dekranasda Deiyai, Apiana Badii Pigome, tersimpan cerita tentang keterampilan, budaya, dan ketekunan Mama-Mama Deiyai.
Keduanya tampil anggun dan memukau saat mengenakan karya kerajinan lokal Deiyai dalam rangkaian kegiatan Kriya Nusa 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
“Bangga skali gunakan pakaian ini. Biar kita tunjukkan bahwa Deiyai punya pakaian tradisional yang indah,” kata Fransina Rumbiak Mote
Penampilan tersebut menjadi salah satu cara Dekranasda Deiyai memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.
Gaun Bebi merupakan pakaian tradisional yang dibuat oleh para perajin, khususnya Mama-Mama Deiyai. Bahan dasarnya berasal dari kulit kayu yang diolah secara tradisional hingga dapat digunakan sebagai pakaian.
Proses tersebut tidak hanya membutuhkan keterampilan tangan, tetapi juga pengetahuan mengenai bahan alam dan teknik pengolahan yang telah dikenal dalam kehidupan masyarakat Deiyai.
Sementara Yato merupakan noken berukuran besar yang dirajut oleh Mama-Mama Deiyai. Bentuknya yang khas memungkinkan Yato dipikul di kepala dan menjadi bagian dari identitas kerajinan tradisional masyarakat Deiyai.
Kehadiran Gaun Bebi dan Yato di Kriya Nusa menjadi semakin menarik karena dikenakan langsung oleh pimpinan Dekranasda Deiyai. Penampilan tersebut memperlihatkan bagaimana produk kerajinan tradisional dapat dipadukan dengan penampilan modern tanpa meninggalkan identitas budaya asalnya.
Fransina Rumbiak Mote dan Apiana Badii Pigome juga mengenakan sejumlah aksesori berbahan lokal asli Deiyai, termasuk kalung khas yang semakin memperkuat karakter budaya dalam penampilan mereka.
Dengan balutan busana dan aksesori tersebut, keduanya kemudian berkeliling mengunjungi ratusan stan yang berasal dari berbagai provinsi, kota, dan kabupaten di Indonesia.
Di tengah keragaman produk kriya Nusantara, Deiyai hadir membawa karakter tersendiri.
“Ini budaya kami. Hasil rajutan dari Mama-Mama kami di Deiyai,” jelas Fransina Rumbiak Mote kepada salah satu penjaga Stand dari Provinsi Sumatera Selatan usai ditanya sekaligus diajak foto bersama
Kulit kayu, rajutan noken, aksesori lokal, dan keterampilan tangan Mama-Mama Deiyai menjadi bagian dari cerita yang dibawa ke panggung nasional.
Kriya Nusa 2026 pun tidak hanya menjadi ruang pamer produk kerajinan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi setiap daerah untuk memperkenalkan identitas, kreativitas, dan potensi ekonomi masyarakatnya.
Bagi Deiyai, momentum tersebut menjadi langkah untuk membuka ruang yang lebih luas bagi karya para perajin lokal agar dikenal tidak hanya di Papua, tetapi juga oleh masyarakat Indonesia.
Lebih jauh, kehadiran Deiyai dalam ajang nasional tersebut menjadi pesan bahwa warisan budaya yang lahir dari tangan Mama-Mama di kampung-kampung Deiyai memiliki tempat di panggung nasional.
Gaun Bebi dan Yato akhirnya bukan hanya menjadi pakaian dan perlengkapan tradisional.
Keduanya menjadi simbol bahwa dari tangan sederhana para Mama-Mama Deiyai, lahir karya yang membawa nama Deiyai, identitas budaya Papua, dan cerita masyarakatnya ke tengah panggung kerajinan Nusantara.
Admin





Tinggalkan Balasan