Dekranasda Deiyai Bawa Tiga Sanggar ke Kriya Nusa 2026, Hasil Kerajinan Bawa Mama Yuliana Madai Pertama Kali ke Jakarta
Dari noken hingga bahan mentah khas Papua, karya Mama-Mama Deiyai diperkenalkan ke publik nasional melalui Kriya Nusa 2026 di Jakarta
JAKARTA, TIGIPEKU.com — Kabupaten Deiyai kembali menunjukkan kekayaan budaya dan kreativitas masyarakatnya di tingkat nasional. Melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Deiyai, tiga sanggar lokal turut ambil bagian dalam Kriya Nusa 26-30 September 2026 di JICC Jakarta dengan membawa beragam kerajinan tangan khas Deiyai.
Tiga sanggar yang terlibat dalam kegiatan tersebut masing-masing Sanggar Embun Deiyai yang dipimpin Mama Mince Pekei, Sanggar Tagi-Tagi yang dipimpin Mama Yuliana Madai, serta Sanggar SMAK Aweidabi Deiyai yang diwakili Ibu Guru Veronika Adii.
Sekertaris Dekranasda Deiyai, Yolanda Asmuruf menjelaskan ketiga Sanggar tersebut merupakan juara pada saat pergelaran pesta rakyat pada 18 Agustus 2026 lalu di Kompleks Perkantoran Deiyai
Asmuruf menjelaskan kehadiran ketiga sanggar tersebut tidak sekadar membawa produk kerajinan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi budaya, kreativitas, dan bahan alam Kabupaten Deiyai kepada masyarakat luas.
“Berbagai hasil karya dibawa dan dipamerkan, mulai dari berbagai motif dan jenis noken atau agiya, noken perempuan atau yato, topi, baju, rok, kalung, anting-anting, anak panah sebagai aksesori perhiasan, hiasan dinding, gelang, pita hingga jepit rambut,” jelas Asmuruf kepada media ini di Kompleks JICC Jakarta, Minggu (27/09) siang
Lanjut Asmuruf, tidak hanya produk jadi, ketiga sanggar juga memperkenalkan sejumlah bahan mentah lokal yang menjadi bagian penting dalam proses pembuatan kerajinan masyarakat Deiyai. Di antaranya anggrek atau toya, tali pintalan dari kulit kayu atau bebi, manik-manik atau kaapoo, serta widime.
“Seluruh bahan dan produk tersebut merupakan bagian dari kekayaan alam serta kreativitas masyarakat Deiyai yang selama ini diwariskan dan dikembangkan oleh para perajin, khususnya Mama-Mama Deiyai,” katanya
Kehadiran mereka di Kriya Nusa menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bahwa Deiyai tidak hanya memiliki kekayaan alam, tetapi juga memiliki sumber daya manusia yang mampu mengolah kekayaan tersebut menjadi produk bernilai ekonomi dan budaya.
Dengan membawa karya dari daerah yang dikenal dengan semboyan “Negerinya Para Intelektual”, para perajin Deiyai sekaligus membawa identitas daerah ke panggung nasional.
Bukan Sekadar Pameran, SMAK Aweidabi Belajar Pemasaran
Salah satu peserta, Veronika Adii, mengatakan keikutsertaan Sanggar SMAK Aweidabi Deiyai dalam Kriya Nusa 2026 bukan hanya untuk memamerkan hasil karya, tetapi juga menjadi kesempatan bagi para guru dan anak-anak sanggar untuk belajar mengenai pengembangan dan pemasaran produk berbahan lokal.
“Terima kasih banyak buat Dekranasda Deiyai yang sudah libatkan kami untuk belajar berkreasi dan belajar untuk pemasaran melalui Kriya Nusa ini. Semoga dengan kegiatan ini kami bisa kembali dan kembangkan melalui sanggar kami bersama anak-anak di Sanggar SMAK Aweidabi Deiyai,” ujar Veronika.
Menurutnya, pengalaman mengikuti kegiatan berskala nasional seperti Kriya Nusa memberikan pengetahuan baru mengenai bagaimana sebuah produk lokal dapat dikemas, diperkenalkan dan dipasarkan kepada masyarakat yang lebih luas.
Veronika berharap Pemerintah Kabupaten Deiyai ke depan tetap memberikan perhatian serta melibatkan SMAK Aweidabi Deiyai dalam berbagai kegiatan serupa.
Ia juga berharap sinergi antara Dinas Pariwisata dan Dekranasda Kabupaten Deiyai dengan berbagai sanggar dapat semakin diperkuat.
Menurutnya, kerja sama tersebut penting agar sanggar-sanggar di Deiyai dapat berkembang menjadi kelompok yang kuat dan mampu memasarkan berbagai produk olahan serta kerajinan berbahan alam Deiyai ke pasar yang lebih luas.
“Harapan kami, melalui Dinas Pariwisata dan Dekranasda, kerja sama dengan sanggar-sanggar semakin dipererat agar menjadi kelompok yang kuat di Deiyai bersama sanggar lainnya. Dengan begitu, hasil olahan dan kreasi produk dari alam dan tanah Deiyai bisa dipasarkan lebih luas lagi,” katanya.
Pengalaman Pertama Mama Yuliana Madai ke Jakarta
Sementara itu, Mama Yuliana Madai mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Kriya Nusa 2026 di Jakarta.
Baginya, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertama menginjakkan kaki di Jakarta sekaligus kesempatan membawa nama Kabupaten Deiyai melalui karya kerajinan lokal.
“Saya pengalaman pertama ke Jakarta sekaligus bisa bawa nama baik Kabupaten Deiyai. Terima kasih Dekranasda Deiyai,” ujar Mama Madai.
Keikutsertaan tiga sanggar tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kerajinan lokal tidak hanya berbicara tentang produk, tetapi juga menyangkut pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, pendidikan keterampilan, serta pembukaan akses pasar bagi masyarakat.
Melalui Kriya Nusa 2026, kerajinan Deiyai mendapatkan ruang untuk dikenal lebih luas. Dari tangan Mama-Mama Deiyai, bahan-bahan yang berasal dari alam dan tanah Deiyai diolah menjadi karya yang membawa cerita, identitas dan kebanggaan daerah ke tingkat nasional.
Admin





Tinggalkan Balasan