IHSG Babak Belur di Awal Pekan, Investor Pilih “Amankan Diri” Jelang Libur Panjang
tigipeku.com – Pasar modal Indonesia mengawali pekan ini dengan rapor merah yang cukup pekat. Pada pembukaan perdagangan Senin pagi (16/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung rontok lebih dari 3% hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Indeks acuan tersebut terjun bebas ke level 6.917,32, sebuah titik yang mengonfirmasi bahwa tren pelemahan masih mencengkeram bursa domestik.
Kondisi pasar terlihat sangat timpang dengan 564 saham yang berguguran, berbanding terbalik dengan hanya 77 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Hingga sesi pertama, nilai transaksi masih tergolong sepi di angka Rp 2,64 triliun. Dampak dari aksi jual masif ini membuat kapitalisasi pasar bursa kita kembali menyusut hingga ke posisi Rp 12.360 triliun.
Sektor Energi dan Infrastruktur Jadi Korban Terparah
Hampir seluruh sektor di bursa mencatatkan koreksi. Sektor infrastruktur, energi, dan barang baku menjadi yang paling menderita kali ini. Di sisi lain, saham-saham kelas berat atau blue chip juga tidak berdaya menahan gempuran pasar.
Saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) muncul sebagai pemberat utama (laggard) yang menyeret indeks hingga 18,24 poin. Tak ketinggalan, emiten di bawah bendera Grup Barito milik Prajogo Pangestu, seperti BREN, juga ikut rontok. Nama-nama besar lain yang turut membebani IHSG pagi ini meliputi BBRI, TLKM, BBCA, BMRI, hingga BRMS.
Bayang-bayang Libur Lebaran dan Geopolitik
Anjloknya pasar hari ini dipicu oleh campuran sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, perdagangan pekan ini akan berjalan sangat singkat, yakni hanya Senin dan Selasa, sebelum bursa ditutup untuk libur panjang Idul Fitri mulai Rabu (18/3/2026). Banyak investor memilih untuk “parkir” dana atau keluar dari pasar demi menghindari risiko selama pasar tutup.
Sementara itu, tensi di Timur Tengah yang kian memanas antara Israel dan Iran terus menghantui pasokan energi dunia. Ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Pulau Kharg, yang merupakan jantung ekspor minyak Iran, semakin memperkeruh suasana. Ketidakpastian mengenai keamanan di Selat Hormuz membuat pelaku pasar global berada dalam mode waspada tinggi.
Menanti Arah Suku Bunga BI dan The Fed
Fokus utama pelaku pasar pekan ini sebenarnya tertuju pada rentetan rapat bank sentral. Bank Indonesia (BI) dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini dan Selasa. Konsensus pasar memprediksi BI akan tetap mempertahankan suku bunga di level 4,75% demi menjaga stabilitas Rupiah di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Dari luar negeri, pasar juga menanti keputusan The Federal Reserve (The Fed) pada Kamis dini hari waktu Indonesia. Meskipun 99,2% spekulasi di FedWatch meyakini suku bunga AS akan ditahan di kisaran 3,50%-3,75%, investor tetap menanti sinyal kebijakan moneter ke depan, terutama setelah rilis data inflasi produsen (PPI) AS yang cenderung di atas ekspektasi.
Dengan banyaknya sentimen krusial yang terjadi saat pasar Indonesia sedang libur panjang nanti, para investor disarankan untuk lebih cermat dalam menghitung risiko selama dua hari perdagangan terakhir pekan ini.





Tinggalkan Balasan