Terjadi Pembakaran Rumah dan Kekerasan terhadap Perempuan di Kapiraya, Kepala Suku Mee Minta Aparat Usut Tuntas
WAKEITEI, TIGIPEKU.com, — Distrik Kapiraya Kabupaten Deiyai kembali membara. Kali ini, diduga terjadi tindak kekerasan terhadap Mama Selpina Dimi serta pembakaran sisa rumah warga pada Kamis (25/06) lalu di Kampung Mogodagi. Pembakaran rumah milik warga suku Mee tersebut diduga dilakukan dari suki Kamoro. Hal ini lanjutan dari peristiwa 24 November 2025 lalu.

Terkait kejadian tersebut, Kepala Suku Mee di Kapiraya, Mesak Edowai menegaskan seluruh pihak yang diduga terlibat dalam tindakan kekerasan maupun pembakaran harus segera diusut secara tuntas oleh aparat penegak hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Menurutnya, apabila dugaan tersebut terbukti, maka tindakan tersebut merupakan tindak pidana yang tidak dapat dibenarkan. Ia juga menyampaikan adanya dugaan keterlibatan oknum dari suku Kamoro dalam peristiwa tersebut. Dugaan tersebut diharapkan dapat diusut secara profesional, objektif, dan berdasarkan alat bukti yang sah sehingga memberikan kepastian hukum bagi semua pihak.
“Wilayah Kapiraya merupakan wilayah adat yang memiliki sejarah kepemilikan oleh lebih dari satu komunitas adat. Kapiraya terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Kapiraya Atas yang merupakan wilayah adat Suku Mee, dan Kapiraya Bawah yang merupakan wilayah adat Suku Kamoro. Oleh karena itu, keberadaan masyarakat Suku Mee di Kapiraya bukanlah sebagai pendatang, melainkan masyarakat adat yang memiliki hak ulayat dan hak waris leluhur atas wilayah tersebut,” tegas Mesak Edowai
Lebih lanjut, Mesak Edowai mengatakan masyarakat Mee di Kampung Yamouwitina dan Kampung Mogodagi tidak meninggalkan kampung secara permanen. Pengosongan yang dilakukan bersifat sementara sebagai langkah untuk meredakan situasi konflik serta memberikan ruang kepada pemerintah dalam menjalankan upaya penyelesaian secara damai.
“Kami bukan mundur karena takut, tetapi kami menghormati kehadiran pemerintah yang sedang berupaya mencari solusi terbaik bagi penyelesaian konflik ini. Kami percaya pemerintah sedang menjalankan langkah-langkah yang tepat untuk menciptakan situasi yang aman dan damai,” tegasnya lagi
Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penyelesaian konflik dan untuk mencegah terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan, Lanjut Edowai, masyarakat Suku Mee juga menyatakan menghentikan sementara seluruh aktivitas pencarian emas di wilayah Kampung Mogodagi dan Kampung Yamouwitina yang menurut mereka merupakan bagian dari wilayah adat Suku Mee.
Tambah Edowai, masyarakat Suku Mee juga menyatakan akan menghormati seluruh proses yang sedang dilakukan pemerintah dan tetap menunggu hasil kerja Tim Harmonisasi dari Provinsi. Mereka berharap tim tersebut dapat menghasilkan solusi yang adil, bermartabat, dan diterima oleh semua pihak demi terciptanya keamanan, ketertiban, serta kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Kami kepala suku Mee berpesan seluruh pihak dapat menahan diri, menghindari tindakan yang berpotensi memicu konflik baru, serta menyerahkan proses penyelesaian kepada pemerintah, Tim Harmonisasi Provinsi, dan aparat penegak hukum agar situasi keamanan dapat segera dipulihkan,” pesannya
Admin





Tinggalkan Balasan