WAGHETE, TIGIPEKU.com, — Ketua Forum Pegiat Literasi Papua Tengah (FPL PT), Aleks Giyai mengajak seluruh suku di wilayah Papua Tengah untuk mulai melakukan Kongres Bahasa Daerah sebagai langkah strategis menyelamatkan bahasa ibu yang kini semakin terancam oleh perkembangan zaman, arus modernisasi, dan minimnya pewarisan bahasa kepada generasi muda.

 

Ajakan tersebut disampaikan sebagai respons positif atas ditetapkannya PERDA Bahasa Daerah oleh Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Menurutnya, regulasi tersebut harus ditindaklanjuti dengan gerakan nyata di tingkat akar rumput agar bahasa daerah tidak hanya menjadi dokumen hukum, tetapi benar-benar hidup dalam kehidupan masyarakat.

 

“Kongres bahasa daerah penting dilakukan oleh setiap suku sebagai ruang bersama untuk mendata, mendokumentasikan, mengembangkan, dan merumuskan strategi pelestarian bahasa ibu masing-masing suku,” kata Aleks Giyai ketika dijumpai di Waghete, Rabu (20/05) sore

 

Giyai menegaskan bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas, memori kolektif, nilai budaya, pengetahuan lokal, dan warisan leluhur yang tidak ternilai. Jika bahasa hilang, maka sebagian sejarah dan jati diri masyarakat Papua Tengah juga ikut hilang.

 

Forum Pegiat Literasi Papua Tengah (FPL PT) menilai bahwa saat ini banyak anak muda Papua khususnya Papua Tengah mulai tidak fasih menggunakan bahasa ibunya sendiri. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama seluruh tokoh adat, gereja, pemerintah, akademisi, guru, dan komunitas literasi.

 

“Melalui Kongres Bahasa Daerah setiap suku itu, diharapkan bisa Mendata jumlah penutur bahasa daerah, Menyusun kamus sederhana bahasa daera, Mendokumentasikan cerita rakyat, lagu, doa adat, dan sastra lisan, Menyusun sistem penulisan bahasa daerah dan Mendorong penggunaan bahasa daerah di rumah dan sekolah serta Melahirkan komunitas pegiat bahasa daerah di kampung-kampung,” urai sastrawan muda Papua ini

 

Selain itu, penulis buku puisi ini menjelaskan kongres juga dapat menjadi ruang rekonsiliasi budaya antar generasi, di mana para tetua adat dapat mewariskan nilai dan pengetahuan kepada anak-anak muda secara langsung.

 

Forum Pegiat Literasi Papua Tengah (FPL PT) berharap pemerintah daerah di setiap kabupaten dapat mendukung agenda kongres bahasa melalui kebijakan, pendanaan, dan program pendidikan berbasis budaya lokal di sekolah-sekolah formal maupun nonformal.

 

“Bahasa daerah tidak boleh hanya dikenang dalam upacara adat atau nyanyian. Bahasa harus hidup di rumah, di sekolah, di gereja, di pasar, dan dalam percakapan sehari-hari generasi muda Papua,” tegasnya.

 

Ajakan ini sekaligus menjadi seruan moral bahwa menjaga bahasa daerah berarti menjaga martabat, identitas, dan masa depan peradaban masyarakat adat di Papua Tengah.

 

Admin