Penulis adalah Adii Tiborius (Anak Murid selama enam bulan kursus jurnalistik Angkatan terakhir)

Hendak meminjam terminology yang di tulis oleh liputan6.com dan media antarapapua,com bahwa seorang tokoh Drs. Lukas Karl Degey yang Kembali kepada sang khalik pada Minggu, 24 Agustus 2003, Bung Lukas Karl Degei adalah  Guru, Pendidik, Pembina para insan pers di tanah air Papua, Beliau (red, Bung Luki Degei) adalah  Sosok yang dikenal vokal membela aspirasi rakyat Papua, beliau meninggal dunia di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta. Namun kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang anggota DPR-RI atau tokoh partai politik, melainkan kehilangan seorang putra terbaik Papua yang selama hidupnya mengabdikan diri bagi rakyat kecil, pendidikan, pers, dan perjuangan martabat orang asli Papua.

Nama Lukas Karl Degey dikenang luas sebagai “penyambung lidah rakyat Papua.” Sebutan itu lahir bukan karena jabatan politik semata, tetapi karena keberaniannya menyuarakan persoalan rakyat Papua secara konsisten di tingkat nasional. Di tengah dinamika politik Jakarta yang keras dan penuh kepentingan, Lukas tetap tampil sebagai figur sederhana yang membawa suara tanah kelahirannya dengan penuh keberanian moral.

Sebagai anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPR-RI, Lukas Karl Degey dikenal vokal dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat Papua. Ia memahami penderitaan rakyat Papua karena ia sendiri lahir dan dibesarkan dari realitas kehidupan masyarakat pegunungan Papua yang penuh keterbatasan. Karena itu, ketika berada di parlemen nasional, ia tidak pernah melupakan akar perjuangannya.

Selama menjadi anggota DPR-RI, Lukas Karl Degey dikenal konsisten membela aspirasi rakyat dengan hati nurani. Ia tidak takut mengkritik kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat Papua. Baginya, jabatan politik bukan alat mencari keuntungan pribadi, melainkan sarana pengabdian untuk memperjuangkan keadilan sosial dan pemerataan pembangunan bagi rakyat Papua.

Pria lulusan IKIP Yogyakarta ini memiliki perjalanan hidup yang sangat kaya. Sebelum dikenal sebagai politisi nasional, Lukas Karl Degey terlebih dahulu mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Ia pernah menjadi guru Sekolah Dasar di Wamena pada tahun 1975–1976. Pengalaman menjadi guru di pedalaman Papua membentuk kepekaan sosialnya terhadap persoalan pendidikan dan masa depan generasi muda Papua.

Tidak berhenti di situ, Bung Lukas Karl Degei kemudian menjadi dosen di Institut Pastoral Indonesia (IPI) dan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur di Abepura, Jayapura. Dunia pendidikan baginya merupakan medan perjuangan penting untuk membentuk kesadaran intelektual orang asli Papua. Ia percaya bahwa Papua hanya dapat maju apabila generasi mudanya memperoleh pendidikan yang baik dan memiliki keberanian berpikir kritis.

Selain sebagai guru dan dosen, Lukas Karl Degey juga dikenal luas sebagai insan pers dan pembina generasi wartawan Papua. Ia termasuk tokoh awal Papua yang mendorong anak-anak muda Papua untuk masuk ke dunia jurnalistik. Pada masa ketika sangat sedikit orang asli Papua terlibat dalam dunia media, Lukas hadir membuka jalan bagi lahirnya generasi wartawan Papua.

Ia pernah menjadi koresponden Harian Kompas, kontributor The Jakarta Post, sekaligus Pemimpin Perusahaan dan wartawan Tifa Irian di Jayapura. Melalui dunia pers, Lukas memahami bahwa tulisan memiliki kekuatan besar untuk menyuarakan penderitaan rakyat dan membangun kesadaran sosial masyarakat Papua.

Sebagai wartawan dan pendidik pers, ia tidak hanya mengajarkan teknik menulis berita, tetapi juga etika dan keberanian moral. Ia mendidik anak-anak muda Papua agar menjadi wartawan yang jujur, berpihak kepada rakyat kecil, dan berani menyampaikan kebenaran. Dari pengaruh dan pembinaannya kemudian lahir banyak wartawan Papua yang tersebar di seluruh Tanah Papua.

Lukas Karl Degey juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan saat menempuh pendidikan di Yogyakarta. Ia pernah aktif di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) pada tahun 1982–1984. Aktivisme mahasiswa membentuk karakter kepemimpinan dan wawasan kebangsaannya. Di sana ia belajar tentang demokrasi, keadilan sosial, dan pentingnya keterlibatan kaum intelektual dalam membela rakyat. Setelah Kembali ke tanah airnya Bung Lucky selalu memberikan Materi pelatihan dan Pembinaan kepada Para Mahasiswa di berbagai organisasi kemahasiswaan dan social kemasyarakatan di kota Jayapura dan di luar Jayapura.

Keterlibatannya dalam politik sebenarnya telah dimulai sejak masa kuliah. Ketika kembali ke Papua, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua DPD PDI-P Papua pada tahun 1988–1996 dan kemudian menjadi Sekretaris DPD PDI-P Papua. Puncak karier politiknya terjadi saat Kongres PDI-P di Semarang tahun 2000, ketika ia terpilih menjadi Ketua DPP PDI-P periode 2000–2005 dengan tanggung jawab bidang sumber daya alam, pekerjaan umum, dan lingkungan hidup.

Meskipun berada di lingkaran elite politik nasional, Lukas tetap dikenal sederhana dan dekat dengan rakyat. Ia tidak membangun jarak dengan masyarakat Papua. Banyak orang mengenangnya sebagai pribadi tenang, tidak banyak bicara, tetapi tegas dalam prinsip dan konsisten dalam perjuangan.

Dilansir oleh berbagai media nasional bahwa sejak beliau meninggalkan dunia ini, banyak tokoh nasional datang memberikan penghormatan terakhir, di antaranya Taufiq Kiemas, Soetardjo Soerjogoeritno, Roy BB Janis, Kwik Kian Gie, Jacob Nuwa Wea, Panda Nababan, dan sejumlah tokoh PDI-P lainnya. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Lukas Karl Degey adalah sosok yang dihormati tidak hanya oleh masyarakat Papua, tetapi juga oleh dunia politik nasional Indonesia.

Namun warisan terbesar Lukas Karl Degey bukanlah jabatan politik yang pernah diembannya. Warisan terbesarnya adalah manusia-manusia Papua yang ia didik, inspirasi perjuangan yang ia tanamkan, dan keberanian moral yang ia wariskan kepada generasi muda Papua. Ia telah membuktikan bahwa seorang anak Papua dapat menjadi guru, wartawan, intelektual, dan negarawan sekaligus tanpa kehilangan keberpihakan kepada rakyatnya sendiri. Karena itu, nama Drs. Lukas Karl Degey akan selalu dikenang dalam sejarah Papua sebagai pendidik insan pers, tokoh politik rakyat, dan penyambung lidah rakyat Papua.

Drs. Lukas Karl Degei: Guru dan Pembina Generasi Pers Papua

Di balik lahirnya banyak wartawan, penulis, aktivis, dan intelektual Papua, terdapat sosok sederhana yang bekerja dalam diam, tetapi meninggalkan pengaruh besar dalam perjalanan generasi muda Papua. Sosok itu adalah Drs. Lukas Karl Degei. Ia bukan hanya dikenal sebagai tokoh politik nasional dan insan pers Papua, tetapi juga sebagai guru kehidupan, pembina asrama, pendidik karakter, dan pembentuk mental generasi muda Papua.

Banyak orang mengenal Lukas Karl Degei sebagai politisi dari Papua yang pernah berada di tingkat nasional. Namun bagi anak-anak muda Papua yang pernah dididik, diarahkan, dan dibinanya, Lukas Karl Degei adalah seorang bapak pendidikan yang keras dalam disiplin, tegas dalam prinsip, tetapi sangat lembut dalam hati dan kasih sayang. Ia tidak banyak bicara, tidak suka mencari pujian, dan tidak pernah membesarkan dirinya sendiri. Akan tetapi, dari tangan dingin dan keteguhannya, lahirlah banyak wartawan dan tokoh pers Papua yang kemudian tersebar di seluruh Tanah Papua.

Sebagai pembina asrama, Lukas Karl Degei dikenal memiliki pola pendidikan yang sangat disiplin. Ia percaya bahwa orang Papua harus dibentuk menjadi manusia yang kuat, tahan menghadapi tantangan hidup, serta mampu berdiri sejajar dengan siapa pun di Indonesia. Baginya, pendidikan bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi membentuk karakter, mental, dan tanggung jawab hidup.

Di dalam asrama, ia mendidik anak-anak muda Papua dengan ketegasan. Waktu belajar harus dihormati. Kebersihan dijaga. Tata tertib dipatuhi. Sikap malas dan hidup tanpa tujuan tidak diberi ruang. Ia tidak suka banyak ceramah panjang, tetapi keteladanannya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Anak-anak asrama belajar dari cara hidupnya: sederhana, tertib, tenang, dan bekerja tanpa mengeluh.

Namun di balik ketegasannya, Lukas Karl Degei sesungguhnya mendidik dengan hati. Ia memahami bahwa anak-anak Papua yang datang dari kampung-kampung membawa banyak keterbatasan, luka sosial, dan pergumulan hidup. Karena itu, ia mendidik bukan dengan kemarahan, melainkan dengan perhatian yang mendalam terhadap masa depan mereka. Ia ingin agar generasi muda Papua menjadi manusia yang bermartabat dan mampu membawa perubahan bagi bangsanya sendiri.

Perjuangannya membina generasi muda Papua dilakukan dalam diam. Ia tidak mengejar popularitas. Ia tidak mencari penghargaan. Tetapi buah didikannya menyebar ke seluruh Tanah Papua melalui para wartawan, penulis, dan tokoh masyarakat yang pernah disentuh oleh pembinaannya. Banyak nama yang kemudian dikenal dalam dunia pers Papua lahir dari didikan dan pengaruh moral Lukas Karl Degei.

Beberapa di antaranya adalah Dance Bleskadit, Sem Nau, Albert Yogi, Frans Tekege A, Tiborius Adii, Fransiskus Tekege B, Donatus Degei, Donatus Douw, Paskalis Butu, Enggel Degei, Markus You, Frans IGN Bobii,  Agapitus Batbual, Hendrik Anouw, Stefanus Boma, Abdul Munib,  Frans Ohoiwutun, kaka kelananggame, Allo Teniwut dan masih banyak lagi generasi wartawan Papua lainnya yang tersebar di berbagai kota dan wilayah pelayanan di Tanah Papua.

Mereka bukan hanya belajar teknik menulis atau dunia jurnalistik semata, tetapi belajar tentang keberanian moral, kejujuran, kesederhanaan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Lukas Karl Degei selalu menanamkan bahwa wartawan Papua harus menjadi suara masyarakat yang tidak terdengar. Pers harus berdiri di pihak kebenaran dan kemanusiaan. Wartawan tidak boleh menjadi alat kekuasaan yang menindas rakyatnya sendiri.

Bagi Lukas Karl Degei, pena memiliki kekuatan besar untuk membangun kesadaran rakyat. Karena itu, ia sangat menghargai pendidikan berpikir kritis. Ia mendorong anak-anak muda Papua agar berani membaca, menulis, berdiskusi, dan memahami persoalan bangsanya sendiri. Ia percaya bahwa kemajuan Papua tidak akan lahir dari kekerasan semata, tetapi dari pendidikan, kesadaran intelektual, dan keberanian moral.

Generasi yang dididiknya kemudian berkembang menjadi wartawan, editor, penulis, aktivis sosial, tokoh gereja, dan penggerak masyarakat di berbagai daerah Papua. Mereka bekerja di media lokal maupun nasional, menjadi saksi sejarah perjalanan Papua, serta menyuarakan persoalan rakyat melalui tulisan dan pemberitaan.

Apa yang dilakukan Lukas Karl Degei sebenarnya adalah membangun fondasi intelektual Papua modern. Ia memahami bahwa bangsa yang besar harus memiliki manusia-manusia yang mampu berpikir dan berbicara untuk rakyatnya sendiri. Karena itu, ia memilih jalan sunyi sebagai guru dan pembina generasi muda.

Di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan Papua pada masa itu, Lukas Karl Degei hadir sebagai figur yang menyalakan api kesadaran. Ia membangun manusia, bukan sekadar organisasi. Ia membentuk karakter, bukan sekadar kecerdasan akademik. Dan ia melahirkan generasi wartawan Papua yang memiliki keberanian berbicara tentang kebenaran.

Hingga hari ini, banyak anak didiknya masih mengenang dirinya sebagai pribadi yang keras di luar tetapi penuh kasih di dalam. Ia mungkin tidak banyak meninggalkan kekayaan materi, tetapi ia meninggalkan warisan yang jauh lebih besar: manusia-manusia Papua yang sadar akan tanggung jawab sejarahnya.

Karena itu, Drs. Lukas Karl Degei layak dikenang sebagai “Guru Insan Pers di Tanah Papua.” Ia adalah pendidik dalam arti yang sesungguhnya — seorang pembina yang bekerja dalam diam, tetapi menghasilkan cahaya yang terus menyala di seluruh penjuru Papua melalui murid-muridnya.

Drs. Lukas Karl Degei dan Bung Bill Retob: Pendidik Insan Pers Tanah Papua

Dalam sejarah perkembangan pers modern di Tanah Papua, terdapat sejumlah tokoh yang bekerja bukan hanya sebagai wartawan, tetapi juga sebagai pendidik, pembina karakter, dan pelahir generasi intelektual Papua. Di antara nama-nama itu, Drs. Lukas Karl Degei dan Bung Bill Retob dikenang sebagai dua figur penting yang memberi pengaruh besar dalam membentuk insan pers Papua pada zamannya.

Keduanya dikenal luas sebagai tokoh pers senior yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pendidikan generasi muda Papua. Mereka bukan sekadar penulis berita atau pengamat sosial, melainkan guru kehidupan yang membentuk cara berpikir, etika, dan keberanian moral anak-anak Papua melalui dunia jurnalistik dan pendidikan sosial.

Pada masa ketika Papua masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, minimnya media lokal, dan kurangnya ruang intelektual bagi orang asli Papua, Lukas Karl Degei dan Bung Bill Retob hadir sebagai pelita kecil yang menerangi jalan banyak anak muda Papua. Mereka percaya bahwa masa depan Papua tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, tetapi terutama oleh kualitas manusianya.

Drs. Lukas Karl Degei dikenal sebagai pribadi yang tegas, disiplin, dan tidak banyak bicara. Ia mendidik generasi muda Papua dengan keteladanan hidup. Dalam pembinaan asrama maupun dalam lingkungan pendidikan informal, ia mengajarkan pentingnya tanggung jawab, kerja keras, kejujuran, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Banyak wartawan Papua generasi awal dibentuk oleh sentuhan didikannya yang keras tetapi penuh kasih.

Sementara itu, Bung Bill Retob dikenal sebagai wartawan senior yang memiliki keluasan wawasan, kemampuan membangun relasi, dan perhatian besar terhadap perkembangan intelektual anak-anak Papua. Ia turut membuka ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal dunia pers, dunia tulisan, dan dunia pemikiran kritis. Dalam perjalanan pers Papua, Bung Bill Retob menjadi salah satu figur yang ikut menanamkan kesadaran bahwa wartawan harus menjadi mata dan telinga rakyat.

Persahabatan dan perjuangan Lukas Karl Degei bersama Bung Bill Retob melahirkan satu generasi insan pers Papua yang kemudian menyebar di berbagai wilayah Tanah Papua. Mereka mendidik bukan hanya lewat ruang kelas, tetapi melalui kehidupan sehari-hari, diskusi malam, pembinaan asrama, percakapan sederhana, dan keteladanan dalam bekerja.

Anak-anak muda Papua yang berada di sekitar mereka didorong untuk belajar membaca realitas sosial, memahami penderitaan rakyat, dan menggunakan tulisan sebagai alat perjuangan damai. Mereka diajarkan bahwa wartawan bukan pencari sensasi, tetapi penjaga nurani masyarakat. Pers harus menjadi alat pendidikan rakyat dan pembela kemanusiaan.

Dari didikan dan pengaruh moral kedua tokoh ini, lahirlah banyak wartawan Papua yang kemudian dikenal di berbagai media lokal maupun nasional. Mereka menjadi saksi sejarah perjalanan Papua dan menyuarakan berbagai persoalan rakyat Papua melalui tulisan, laporan, dan advokasi sosial.

Yang paling berharga dari Lukas Karl Degei dan Bung Bill Retob adalah semangat pengabdian mereka yang dilakukan tanpa banyak sorotan. Mereka bekerja dalam kesederhanaan. Mereka tidak mengejar popularitas. Mereka lebih memilih membentuk manusia daripada membangun nama besar bagi diri sendiri.

Bagi banyak generasi Papua, kedua tokoh ini adalah sekolah kehidupan. Mereka mengajarkan bahwa menjadi insan pers berarti siap hidup jujur, berpihak kepada rakyat kecil, serta berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah.

Dalam konteks sejarah Papua, jasa Lukas Karl Degei dan Bung Bill Retob tidak hanya berada dalam dunia jurnalistik, tetapi juga dalam pembangunan kesadaran intelektual orang asli Papua. Mereka ikut menyiapkan generasi yang mampu berbicara untuk bangsanya sendiri dan memperjuangkan martabat Papua melalui pena dan pemikiran.

Hingga hari ini, nama Drs. Lukas Karl Degei dan Bung Bill Retob tetap dikenang sebagai pendidik insan pers Tanah Papua — dua tokoh yang bekerja dalam diam, tetapi meninggalkan jejak besar dalam sejarah pendidikan, jurnalistik, dan pembinaan generasi muda Papua.

GURU INSAN PERS DI TANAH PAPUA: DUNIA TANPA PERS ADALAH HAMPA

Tanah Papua telah melahirkan banyak tokoh besar yang mengabdikan hidupnya bagi pendidikan, kemanusiaan, keadilan, dan perjuangan martabat orang asli Papua. Di antara nama-nama itu, sosok Lukas Karl Degey menempati ruang tersendiri dalam sejarah perjalanan Papua modern. Ia bukan hanya seorang politisi nasional, melainkan juga seorang guru kehidupan, pembina insan pers, pemikir kritis,pendidik dan pejuang kemanusiaan yang menggunakan pena, suara, dan gagasan sebagai alat perjuangan.

Buku ini hadir sebagai upaya mengenang, merawat, dan mewariskan jejak pengabdian Lukas Karl Degey kepada generasi Papua masa kini dan masa depan. Di tengah derasnya perubahan sosial-politik di Papua, nama Lukas Karl Degey tetap dikenang sebagai figur yang sederhana, rendah hati, namun memiliki keberanian moral yang besar dalam menyuarakan kepentingan rakyat Papua di tingkat nasional.

Perjalanan hidupnya memperlihatkan bagaimana seorang anak Papua mampu menembus batas keterisolasian dan keterbatasan zamannya untuk tampil sebagai intelektual yang disegani. Ia lahir dan tumbuh dalam suasana Papua yang sedang mengalami perubahan besar—mulai dari masa misi, pendidikan modern, integrasi politik, hingga pergulatan pembangunan nasional. Dari lingkungan itulah terbentuk karakter Lukas Karl Degey yang kritis, tegas, dan penuh kepedulian terhadap nasib rakyat kecil.

Sebagai insan pers, Lukas Karl Degey percaya bahwa media bukan sekadar alat penyampai informasi, tetapi juga sarana pendidikan masyarakat dan pembebasan kesadaran. Ia memahami bahwa rakyat Papua membutuhkan ruang untuk berbicara, menyampaikan pengalaman hidupnya, dan memperjuangkan hak-haknya secara bermartabat. Karena itu, ia mendorong lahirnya generasi wartawan Papua yang berani, cerdas, berintegritas, dan berpihak pada nilai kemanusiaan.

Julukan “Guru Insan Pers di Tanah Papua” bukanlah gelar tanpa makna. Julukan itu lahir dari pengaruh dan keteladanannya dalam membina cara berpikir kritis di kalangan generasi muda Papua pada waktu lalu tahun 80-an s/d 90-an. Ia mengajarkan bahwa pers harus menjadi suara nurani masyarakat, bukan alat kekuasaan. Ia juga memperlihatkan bahwa seorang wartawan harus memiliki keberanian moral untuk menyampaikan kebenaran, sekalipun harus menghadapi tekanan politik dan kekuasaan.

Di bidang politik, Lukas Karl Degey mengabdikan dirinya melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan menjadi salah satu putra Papua yang dipercaya berada di tingkat kepemimpinan nasional. Namun politik baginya bukanlah alat mencari kekuasaan pribadi. Politik adalah jalan pelayanan, perjuangan keadilan, dan pengabdian bagi rakyat Papua yang selama bertahun-tahun hidup dalam ketimpangan pembangunan dan keterbatasan akses sosial.

Keberanian Lukas Karl Degey dalam menyampaikan kritik sering kali membuatnya berbeda pandangan dengan banyak pihak. Akan tetapi, ia tetap dikenal sebagai pribadi yang menghargai perbedaan dan menjunjung dialog. Ia memahami bahwa masa depan Papua tidak dapat dibangun dengan kebencian, melainkan melalui pendidikan, kesadaran, persatuan, dan perjuangan yang bermartabat. Dunia tanpa Pers Ibarat  masak sayur tanpa garam; artikel ini tidak hanya mengisahkan perjalanan hidup seorang tokoh, tetapi juga merekam sebagian perjalanan sejarah Papua itu sendiri. Melalui kisah hidup Lukas Karl Degey, hendak melihat bagaimana dunia pendidikan, pers, gereja, budaya, dan politik saling berkaitan dalam membentuk kesadaran sosial masyarakat Papua.

Akhirnya, artikel ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Papua lantaran hari ini ada karena ada kisah cerita sebelumnya khususnya di dunia pers di tanah papua. Untuk kemudian pada hakekatnya para insan pers agar berani dan jujur beritakan berbagai kabar di tanah Papua berpikir kritis, mencintai tanah leluhur, dan mengabdikan hidup bagi kemajuan masyarakat. Sosok Lukas Karl Degey mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata atau kekuasaan, tetapi juga melalui tulisan, pendidikan, dialog, dan keberanian moral untuk berdiri di pihak kebenaran.

Selamat membaca dan mengenang jejak pengabdian seorang putra terbaik tokoh dan insan Pers Lokal Papua dan Nasional: Drs. Lukas Karl Degey — Guru Insan Pers di Tanah Papua.

Semoga***