Forum Pegiat Literasi PPT Apresiasi Penetapan Perda Bahasa Daerah Oleh Pemprov
WAGHETE, TIGIPEKU.com, — Forum Pegiat Literasi Provinsi Papua Tengah (FPL PPT) memberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah atas ditetapkannya Peraturan Daerah (PERDA) tentang Bahasa Daerah sebagai langkah penting dalam menjaga, melindungi, dan melestarikan kekayaan bahasa daerah setiap suku yang ada di wilayah Provinsi Papua Tengah.
Penetapan PERDA tersebut merupakan tonggak sejarah bagi upaya pelestarian identitas budaya dan jati diri masyarakat Papua Tengah. Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga ruang hidup nilai-nilai budaya, sejarah, pengetahuan lokal, serta warisan leluhur yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang terus berkembang, banyak bahasa daerah mengalami ancaman kepunahan akibat minimnya penggunaan di lingkungan keluarga, sekolah, maupun ruang publik. Karena itu, hadirnya PERDA Bahasa Daerah menjadi bentuk keberpihakan pemerintah terhadap keberlangsungan identitas budaya masyarakat Papua Tengah.
“Kami mengajak kepada semua agar kebijakan tersebut harus menjadi gerakan bersama, bukan hanya sebatas regulasi administrative,” ujar Ketua Forum Pegiat Literasi Papua Tengah, Aleks Giyai kepada media ini, Sabtu (09/05) sore
Aleks Giyai menjabarkan agar harus diimplementasikan Perda tersebut melalui berbagai langkah nyata, antara lain:
- Penguatan pembelajaran bahasa daerah di sekolah formal.
- Pengembangan bahan bacaan dan literasi berbasis bahasa daerah.
- Dokumentasi cerita rakyat, lagu daerah, dan sastra lisan setiap suku di Papua Tengah.
- Pelatihan bagi guru dan pegiat literasi;
- Penggunaan bahasa daerah dalam kegiatan budaya dan ruang publik maupu pemerintah;
- Dukungan terhadap komunitas literasi kampung dan rumah baca adat di 8 kabupaten di Papua Tengah.
- Dukungan terhadap setiap suku yang ada di Papua Tengah melaksanakan Kongres atau musyawarah bahasa daerah.
“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat yaitu tokoh adat, gereja, sekolah, pemuda, perempuan, komunitas literasi, dan pemerintah daerah—untuk bersama-sama menjaga bahasa daerah sebagai akar identitas orang Papua,” ajak penulis buku sastra di tanah Papua ini
Menurut Aleks Giyai, bahasa yang hilang adalah sejarah yang ikut hilang. Bahasa yang dijaga adalah peradaban yang terus hidup. Maka itu, kata dia, melalui momentum ini, Forum Pegiat Literasi Papua Tengah berharap lahir melestarikan bahasa daerah dan gerakan literasi berbasis bahasa daerah, yang mampu memperkuat karakter generasi muda Papua Tengah, membangun kebanggaan budaya, serta memperkokoh keberagaman dari wilayah Papua Tengah.
“Bahasa daerah adalah suara identitas, napas budaya, dan wajah jati diri suatu suku bangsa,” ujar salah satu sastrawan muda Papua ini
Admin





Tinggalkan Balasan